Saat kuterjauh Tersungkur dalam kehampaan Petuah – petuahmu getarkan ruhku Hadirkan semula sejumput asa yang telah hilang
“ Bangkitlah bang nun diseberang selat malaka anak negerimu menunggu” Dalam baluran semilir jingga Kuraba sabdamu Tanpa suara dan kata-kata Karena penghubung kita adalah hati
Dan…. Kala kukehilangan arah Lelah mencari oase ditengah sahara Dalam gulita kulihat kau bercahaya :Sinarmu selalu menjadi penunjuk arah Bagi setiap musafir yang tertinggal kafilah
Tapi.. Mengapa disaat hari mulai fajar Engkau malah pergi?
Note: Meskipun ku telah mempunyai matahari, ku tetap merindukan keteduhan cahayamu.
Cairo, awal winter ’07
Duhai
bulan…
Kehadiranmu
selalu mengusir kepekatan malam yang meyelimuti bumi. Keteduhan cahayamu adalah
petunjuk bagi kunang – kunang yang sedang kasmaran, isnpirasi bagi pujangga
yang sedang mengarungi samudera kata.
Namun,dapatkah
kau mengusir awan kelabu dari rongga dadaku?
Duhai
bulan…
Malam
ini kulihat persamaan antara kau dan aku. Kau terpaku sendiri di langit yang
mahaluas, sehelai kerudung hitam
menutupi separuh wajah cantikmu, tiada sebutir bintangpun yang sudi menemanimu.
Dan
malam ini aku juga termangu seorang diri dalam kesepian yang menusuk jiwa.
Hanya kau dan nyanyian lirih daun kurma yang setia menemani.
Ruang
dan waktu memisahkanku dari cintaku.
Aku
terluka,namun tidak ada yang tahu hikayat
darahku ini selain kau dan maha pemilik rahasia. Orang–orang
yang melihatku, menyangka aku selalu bahagia karena aku selalu berusaha
tersenyum kepada mereka. Air mataku malu
untuk menetes di hadapan mereka. Andai
mereka mau meyelami hatiku, sungguh mereka akan tersedu bersamaku.
Entah
kenapa aku selalu bebas bercerita apa saja kepadamu? Tanpa rasa segan dan
malu.Mungkinkah karena kita sama – sama dilanda rindu?
Mereka
yang melihat wajahmu juga tak akan menduga kalau kau sedang terluka. Parasmu
yang ayu dan sinarmu yang hangat menutup mata mereka.
Andai
mereka mau sedikit memahamimu, mereka akan tahu banyak tentangmu. Dibalik wajah
ayumu kau sembunyikan bongkahan – bongkahan cadas. Mereka tidak tahu bahwa kau
sangat mengharapkan kehadiran sang bayu yang membelai wajahmu dan setes air
pengobat dahagamu, merindui kicauan burung - burung yang akan memeriahkan
pagimu.
Malam
ini menangislah bersamaku…..!
Duhai
yang bercahaya…
Aku
pernah jatuh hati pada seseorang, namun aku tidak berani mengatakannya. Mungkin
karena dia yang terlalu mulia atau aku yang pengecut? Ah..aku tidak tahu.
Ya… aku
merindui cinta yang bahkan belum sempat terucap.Salahkah?
Dulu,
dia yang mengisi cahaya dalam rongga dadaku, menuangkan madu kebahagian dalam
cawan kehidupanku.Hari - hari yang kulalui bersamanya begitu indah, penuh warna. Sekarang, semua itu hanya tinggal sepotong kenangan. Hari - hari indah yang kurajut bersamanya telah berlalu, demi cita - cita dan harapan hari
esok yang lebih cerah aku pergi meninggalkannya. Aku tak tahu, apakah aku akan bertemu
dengannya lagi?
Mungkin,
aku terlalu bodoh karena tidak memberinya kepastian, Tapi, siapalah aku,
sehingga mampu memberi kepastian?
Saat
itu, untuk berjalan saja aku masih goyah, bagaimana bisa aku menyuruhnya untuk
menungguku?
Saat
ini, aku tidak tahu dimana dia berada. Mungkin kau tahu?
Malam
ini, aku punya satu permohonan kepadamu. Kabarkan kisahku ini ke singgasana
langit, semoga dengan kata-katamu yang diatas merasa kasihan kepadaku dan mau
memberiku kesempatan untuk kembali bersua dengannya.
Hei..
Kenapa
cahayamu memudar? Bosankah kau mendengar celotehanku?
Kenapa
begitu cepat kau ingin pergi? Tak sudikah kau menemaniku untuk satu - dua lagu
lagi
0h…ternyata
hari telah fajar.
Cairo, 07 March 07
“nak,.. cepatlah sembuh, buka matamu sayang, kita akan piknik
ke taman putroe phang” suara wanita paro
baya itu terdengar berat. Bilur – bilur penyesalan jelas terlihat di wajahnya.
Ia menyesal karena dulu selalu menunda jadwal jalan – jalan ke taman putro
phang, hingga akhirnya anak kesayangnnya itu jatuh sakit.
Dilain tempat…
“mi..bangun mi, nanda janji akan menjadi anak baik dan tak
akan mengecewakan ummi lagi” ujar
seorang anak muda yang sedang menunggu umminya siuman. Pemuda tersebut hanyut dalam
genangan air mata penyesalan, ia menyesal tidak menuruti kata-kata orang
tuanya. Air bening itu terus mengucur dari kedua matanya.Namun, wanita tua di
sampingnya tepat saja diam membisu, mungkin ia sudah bosan berkata-kata. Saat itulah, waktu jadi begitu berarti, pengandaian jadi
sebuah harapan. Andai waktu bisa diputar ulang. Detik yang selama ini terbuang sia- sia menjadi barang
berharga . Lidah yang selama ini enggan dibasahi zikir dan doa mulai komat –
kamit membaca mantra suci. Hanya satu asa yang tersisa, membahagiakan sang ummi
yang kini terbaring kaku. Tak peduli, meskipun dulu sering melukai hatinya. Semua itu menjadi kenangan
pahit yang menyayat hati. Beruntunglah kalau tuhan masih memberikan kesempatan
untuk menghapus noda hitam masa silam.
Di lain tempat,…
“Sayang, lihat aku bawain apa…” Ucap seorang suami sambil meletakkan
setangkai mawar di dekat istrinya yang kini terbujur tak berdaya. Guratan
penyesalan tertulis jelas di muka lelaki itu. Ia menyesal karena dulu selalu
lupa membelikan setangkai mawar, permintaan istrinya. Saat itu, setangkai mawar begitu mahal baginya karena
menurutnya menghadiahkan mawar sangat tak berguna. ‘Toh ia kan layu, lalu dibuang’ begitu ia selalu
beralasan saat istrinya minta dihadiahkan bunga. Lelaki itu sunguh tak mengerti
perasan perempuan. Saat ini, jangankan setangkai mawar yang dijual di pinggir
jalan, ribuan kuntum mawar yang tumbuh di dasar samudera ingin dihadiahkannya
buat istri yang dulu sempat disia-siakan.
Untuk semua kejadian di atas, saya ingin membuat kesimpulan dalam
beberapa kalimat:
“Penyesalan selalu datang terlambat, namun tidak ada kata
terlabat untuk menyesal. Saat ini hanya satu yang bisa kita lakukan, meyesal
sebelum penyesalan itu terlambat”.
" Tajak mate ma, han tajak mate ku " Demikian bunyi idiom aceh untuk mengambarkan seseorang yang sedang kebingungan. Saya
tidak bisa membayangkan bila benar -benar dihadapkan pada piihan
seperti itu. Sungguh sebuah pilihan yang sangat sulit. Dalam sebuah
hadits memang kata "ibu" disebut 3 kali dan kata "ayah" hanya satu kali
. Namun bila kita disuruh memilh satu diantara keduanya, maka
kejadiaannya akan lain.Memilih ayah atau ibu bukan sebuah pilihan, tapi
pemakssan. Semoga tidak ada yang memaksa kita untuk memilih.
Dalam
kehidupan ini, kita tak pernah lepas dari pilih - memilih. Bahkan orang
yang sukses adalah mereka yang menjatuhkan pilihan yang tepat pada saat
yang tepat pula. Namun, memilih tak semudah yang dikira. Dibalik sebuah pilihan tersimpan tanggung jawab dan air mata. Setidaknya, itulah yang saya pahami. Saya pun mulai benci dengan pilihan.
Tiga
tahun yang lalu, ketika pilihan hati ini jatuh kepada negeri cleopatra,
disitulah cerita air mata ini bermula. Cerita panjang yang entah bagaimana
endingnya. Saya ke Mesir bukan kebetulan atau pelarian, saya kemari
karena pilihan hati. Seperti pilihan - piliahan yang lain. pilihan ini
juga diwarnai air mata. Bagaimana tidak? saya yang sangat lengket
dengan orang tua, harus pergi jauh untuk masa yang tak terbatas. Di
bandara polonia medan air mata tertumpah ruah. Sekuat tenaga saya
berusaha agar air mata tak menitik, namun saya gagal. Saya tak kuasa
menahan air mata apalagi ketika melihat wanita yang sangat saya cintai
sedang terisak. " Bek neumoe mak.." saya menghibur ibu saya. "Kiban
han mak moe, kah ka neuk jak han meujan pajan ka gisa, uroe nyoe saban
lagee mak jak intat manyet kah lam jrat" Mak semakin tersedu. Saya pun tenggelam dalam genangan air mata. Saya gamang. Salahkah yang
saya lakukan? Bukankah perpisahan ini hanya untuk sementara tapi
mengapa saya merasa seakan kami tak akan bersua kembali.
Saya
terbang meninggalkan orang - orang tercinta menuju ke negeri cita -
cita. tinggal lah segala kenangan yang sempat tercipta. Hari - hari
indah yang penuh canda dan tawa, ketika mak menuntun tangan saya menapaki hitam - putih jalan ini
telah berlalu. Pun demikian, hati ini tak seditik pun terpisah
dengannya. Tiap tetes air mata mak yang menitik telah mengkristal di
hati ini, selamanya tak akan pernah saya lupakan. Karena disitu
tersimpan kekuatan. Saat itu, saya berjanji di dalam hati akan terus berjuang agar air mata mak tidak mengalir sia -sia.
October 2003, Saya
mendarat di negeri cita - cita. Negeri yang semula saya anggap musuh
saya, karena dia telah memesiahkan saya dengan keluarga. Saya mulai
membaca peta perjauangan dan mengatur strategi untuk segara
manaklukkan musuh. Hanya satu asa di dalam jiwa, saya ingin cepat -
cepat selesai dan kembali ke dalam kehangatan cinta kasih mak.
Alhamdulillah,
sekarang saya sudah berada di tahap akhir. Bila Allah mengizinkan tahun
depan saya sudah bisa kembali ke tanah air. Saya sudah tidak sabar
menanti hari itu, perasaan saya seperti anak kecil yang tak sabar
menunggu pagi untuk segera memakai baju baru di hari raya.
Bila hari itu tiba, saya akan sangat berbahagia. Opss,...saya juga akan sangat sedih. Paradoks memang, bahagia dan sedih.
Saya akan bersedih bila meninggalkan cairo, saya terlanjur jatuh cinta.
Saya tidak tahu kapan pertama kali saya mencintai musuh saya ini.
Semuanya terjadi secara perlahan - lahan dan alami. Saya mulai tergoda
dengan pesoana cleopatra.....
ya...3 tahun bukan waktu yang singkat, dan saya masih punya watu 1
tahun lagi . Saya khawatir bila nuansa kairo yang exotis ini menguasai
saya,. saya tidak tahu apa ayang akan terjadi. Bukankah semua bisa
terjadi dalam rentangan waktu tersebut?
Oh..ternyata saya akan berhadapan dengan pilihan baru. Aceh atau kairo?
Saya benci pilihan...Bagaimana saya harus memilh? Saya cinta kedua - duanya?
Bila embun aceh yang mengokohkan kaki saya sebelum bisa berjalan, maka aliran nil yang mengajari saya makna lain dari kehidupan.
Bila kidung cempala yang memeriahkan pagi saya di aceh, maka disisni gemersik daun kurma yang mengantar saya ke dunia mimpi.
Namun, selama wanita yang mengajari saya makna kasih sayang setia
menunggu, saya tak akan bingung, karena saya sudah punya pilihan.
"Dasar anak mami" bagi sebagian pemuda,kalimat tersebut sama derajatnya dengan makian. Muka mereka yang mendengar kalimat itu merah padam, memendam amarah. Entah makna apa yang dikandung kalimat tersebut sehingga mereka yang dituding demikian begitu murka. Terkadang,kepalan tangan juga ikut mengiringi semburan lidah yang tak bertulang itu.
"Anak mami" Kalimat seperti itu juga sering mampir digendang telingaku. Aku tidak buru-buru mengambil kesimpulan untuk marah ketika mendengar kata itu.Ku selalu berusaha meyelami hatiku sendiri, mencari alasan apa yang menjadikan mereka menyematkan lakab itu padaku. Aneh,setelah kutahu alasan mereka, aku tidak tersinggung dan tidak akan pernah marah.
"Aku tidak merokok,ortuku melarangku,dan aku tak pernah ingin mencobanya" aku beralasan ketika kawan-kawanku menyodorkan batangan berisi racun nikotin itu."Dasar anak mami loe.." balas mereka serempak.ketikamendengar alasanku.
Itu lah sepenngal pengalaman lama,ketika tubuhku masih dibalut seragam putih abu-abu.Mereka mengelarku "anak mami" karena aku tidak merokok.Aku tidak risih dengan panngilan itu,aku sangat menikmatinya.Dan bila untuk mendapat gelar lain,aku harus mengotori suci cinta ibuku,berandaipun aku tak sudi.
Biarkan selamanya aku menjadi anak mami,karena aku sangat mencintainya.Entah bagaimana aku harus menata kepingan hatiku,kalau kelak takdir tuhan memisahkanku dengan ibuku.Bila hidup dan mati bisa dipesan,sungguh kuingin meninggalkan dunia ini bersama ibuku.Pada jam yang sama,bahkan pada detik yang sama.
"Anak manja..."
Apakah aku anak manja? Aku sendiri susah untuk menjawab pertanyaan ini. Ibu memang sangat menyayangiku,dan akupun tak bisa kehilangan dirinya.Tapi demi yang namanya ilmu pengetahuan,dari kecil aku sudah terpisahkan dari dekapan ibu.Belum genap umurku 13 tahun,aku harus rela hidup diasrama,tanpa ibu yang membenarkan selimutku,tak pernah lagi kudengar dongeng-dongeng penjemput mimpi yang sering dibacakan ibu.Dan ketika umurku menginjak tapal 19,sayap-sayap ilmu pula yang membawaku terbang jauh dari buaian manja ibu. Sendiri kuterkapar di negeri Musa. Sekat ruang dan waktu semakin angkuh memisahkanku dengan ibu.
Apakah aku anak manja?
Bila seorang anak yang mencintai ibunya dan merindukan pelukan sayangnya adalah definisi manja ,maka aku tahu jawaban atas pertanyaanku.
Iya,..aku anak manja.Tapi betulkah definisi manja seperti itu?

Jangan kau minta cinta pertama darikuAku tak lagi berpunyaJauh sebelum hatiku terpaut denganmuJiwaku telah terandam cinta seorang wanitaWanita itulah yang mengajariku mengenal AllahRasulnya
Dengan susu beroma surga darinya Terbata ku mengeja aksara kehidupan ini Berpegangan ditelunjuknya Tertatah-tatah kumulai berlari Menyongsong mentari
Dan disaat kuterjatuh Kakiku terluka Dalam buainnya kucucurkan air mata
Enyahkanlah bongkah cemburu dihatimu Ibu-ku terlalu mulia untuk kau cemburui
Hari ini Ingin kumaklumkan kepadamu Jika kau masih mencintaiku dalam kekuranganku Ku akan mencintaimu Seperti bening cintaku kepada wanita itu
Tak cukupkah itu bagimu?

Jam sudah menunjukkan angka 06.00, sang surya tampaknya
masih enggan menyinari bumi.Hanya semburat warna merah terpancar di ufuk timur.
Kupercepat langkahku,kuingin segara tiba di rumah dan
menyerupt Nescafe dingin.Jalan-jalan disekitar apartemen tempat tinngalku masih
lengang.Jam 06.00 masih terlalu pagi
buat warga mesir.Kehidupan biasanya mulai ramai pada jam 09.00.sehingga
timbullah istilah”Kalau Israel menyerang mesir sebelum jam 09.00 maka mereka
akan dengan mudah menaklukkannya”….
Hari ini,aku berada diluar flat pagi-pagi sekali hanya
kebetulan.Semalam berkunjung ketempat kawan dan tidak diijinkan pulang.Paginya
aku baru dibolehkan pulang.
Sepanjang perjalanan,aku berlari-lari kecil dan sesekali
bernyanyi lagu nostalgia.
Ups….langkahku terhenti seketika,kulihhat didepanku ada
seekor anjing.Bulu-bulunya tebal,lebih mirip seekor srigala daripada anjing
biasa.kuperlambat gerak kakiku,kubalikkan tubuhku,ingin pulang lewat jalan
lain.Ternyata si Anjing itu mengikutiku.Saat itu,jantungkku memompa darah lebih
cepat dari biasanya.Kuedarkan pandangan kesektarku,mencaai pohon yang bisa kupanjat.Apess…,sejauh
mata memandang hanya ada tanah gersang dan tiang listrik.Mau manjat tiang
listrik ga mungkin lah.
Otakku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa selamat
dari anajing itu.Mau lari,rasanya ga’ mungkin,anajing bisa lari dua kali lipat
lebih cepat.
Aku ingat,dulu dikampung bila ada anjing aku akan jonggkok
dan pura-pura melemparinya dengan batu,dengan begitu anjing-anjing akan lari
ketakuan.
Tapi,menghadapi anjing yang mirip serigala seperti ini,aku
ragu kalau trik itu kan
berhasil.
Dalam hati,tak henti-henti aku berdoa supaya selamat dari incaran
anjing itu.*klu digigit bisa rabieskan?..hiy takut*
Kulihat anjing itu,semakin dekat saja
denganku.Hmm..tampaknya tak ada cara lain.Segera kubungkukkan badanku,kumalai
pura-pura melemparinya,hamper saja sandalku jadi alat.Kesempitan memang sering
menjadikan orang biasa melakukan hal-hal yang luar biasa.
Anjing itu pun lari tunggang-langgang.ternyata.anjing itu dimana-mana
juga sama.Sekali anjing tetap anjing.
Saat itu,ku kembali sadar bahwa akal dan kecerdasan yang
Allah berikan kepada manusia merupakan anugerah tar ternilai.Seandainya Allah
membrei kecerdasan kepada anjing,mungkin kejadian hari ini akan lain akhir
ceritanya.
Tapi,..itulah manusia kita jarang bersyukur atau lebih
tepatnya sering lupa akan nikmat-nikmat tersebut.Dan ketika nikmat itu hilang
kita baru menyadarinya.
“Maka nikmat tuhannmu
manalagi yang engkau dustakan..” Note: kutulis ini,sebagai pengingat bagi diriku yang sering lupa.
Pagi itu susana kota cairo sangat cerah.Burung-burung gereja mulai memamerkan suaranya,sambil berkejar-kejaran di tali jemuranku.susana hatiku tak secarah pagi itu.Ada beban yang mengganjal.Sebentar lagi nasibku akan jelas,hanya ada dua pilihan lulus atau gagal.
Jalan-jalan masih sepi,ketika aku keluar dari flat menuju kampus.Walau bagaimanapun aku harus melihat sendiri nilaiku.Setibanya di kampus,aku segara menuju kebagian kemahasiswaan.Alhamduliilah Ust Muhammad Afifi sudah hadir jadi tidak perlu menunggu.Langsung kukelaurakan kartu mahasiswa untuk kuserahlan kepada ust Aifi.Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku.kulihat ust Afifi sedang mencari nomor-ku.Kusaputkan telapak tanganku kemuka."Ya Allah berikan kepadaku kekuatan...."Hatiku berdoa.
Kubuka mataku,kulihat ust Afifi menunjukkan nilaiku.kumenatapnya tak percaya,benarkah ini nilaiku."Ana nagih walla la=Saya luluskah?"tanyaku memastikan."Aho syuftaha=kamu kan dah liat sendiri"Jawab ust Afifi.Dadaku memompa darah lebih cepat dari biasanya,mataku memanas.ada air mata yang mengambang di sana.
Aku memang kurang percaya pada penglihatan mataku.Soalnya tahun akademik ini cara belajarku sedikit berubah dari tahun-tahun sebelumnya.Aku tak percaya bisa dapat nilai jayyid jiddan (Baik sekali).Padahal aku sudah mempersipakan diri untuk tidak lulus agar tidak kecewa.Tapi Allah memang punya rencana lain.
Dalam perjalanan pulang,hati-ku tak henti-hentinya mengucap Alhamdulillah.Setiba dirumah langsung kutekan nomor telpon untuk menghubungi ayah di kampoeng.Aku tak ingin ortu was-was menanti.Sayang sudah beberapa kali kucaba,jaringan ke Aceh sedang sibuk.Jadilah malam itu,perasaanku bercampur aduk.Antara senang dan sedih.Aku senang bisa dapat nilai bagus.Tapi kenapa aku tak bisa membagi senyumku ini dengan orang tuaku di desa.Senyum bahagiaku diluluri air mata.Aku bukan bersedih karena hanya tidak bisa mengabari kedua orang tuaku.Aku sedih bagaimana nanti,disaat ayah berhasil mengantarku menuju kesuksesan,sedang beliau sudah tidak ada lagi.Dengan siapakah aku harus membagi senyum?bukankah senyum dibirku beliau yang ukir?
Kuteringat,ketika aku masih di pondok dulu,kusering berdoa agar aku bisa selalu bersama orang tuaku.Dan bila nyawa harus memisahkan kami,aku ingin mendahului ayah dan bunda.Saat ku ceritakan tentang isi doaku sama bunda.Saat itu bunda malah mengangis."Jangan berdoa seperti itu,berdoalah agar kita bisa menjadi hamba yang di ridhai -Nya dan kalaupun berpisah di dunia kita bisa kemabli bertemu di surga"Bunda menasihatiku.
Lantas aku bertanya sama ustazku,"Bisakah orang tua dan anak bertemu disurga?".Ustzku menjawab"bisa,kalau amal ibadah keduanya sama...."
Hiks. .bila mengingat hal-hal yang demikian air mata laki-lakiku selalu tumpah.Aku tak peduli kata orang,biar saja orang-orang mengangapku manja bin cengeng.Aku memang tak sannggup menahan air mata bila kerinduan akan orang tua di kampoeng merambah hatiku.
Masih adakah waktu untuk bertemu hingga kuliah-ku selesai?Bersediakah Ayah dan bunda menghabiskan hari tuanya bersamaku?...Masih ada sejuta tanya yang aku sendiri tidak tahu jawabnya.
 Kemarin malam,saya bersua dengan dua orang sahabat seperjuangan.sebenarnya,tempat tinggal kami tidak terlalau berjauhan.Cuma,karena kesibukan masing-masing,jadi kami jarang bertemu.
Karena kondisi flat yang panas,kami pun ngobrol-ngobrol di taman.Banyak topik yang kami perbincangkan.Entah siapa yang memulai hingga tiba pada topik "bagaimana kriteria wanita idaman? ".Nah,diantara masalah yang kami perbincangkan,haruskah istri pinter masak?
Tentu saja,kami punya pandangan masing dalam hal ini."Kalau istri ga bisa masak,sama dong sperti sekarang...masak sendiri,nyuci sendiri..bla..bla.."ujar salah seoarang sahabat saya.
"soal masak itu ga penting,yang penting saling cinta.soal masak kan bisa diajarin belakangan....."kata kawan satu lagi sambil menyulut malboronya.
Selama kami bercakap-cakap angin menghempuskan hawa panas,gerah.
Akhirnya tibalah giliran saya untuk cuap-cuap.Saya lebih cenderung kepada pendapat sahabat nomor dua.Wanita dinikahi bukan untuk dijadikan pembantu.istri adalah sahabat jiwa dikala susah dan senang.Dengan kehadirannya jiwa menjadi tentram (QS Ar-rum:21).Masalah memasak itu masalah sepele,lagian saya belum pernah dapat hadits yang "secara langsung" mengnatakan memasak adalah tugasnya istri. Seharausnya lah seorang suami sesekali turun tangan ke dapur,biar bisa mersakan bagaimana perjuangan seorang istri.
Namum,ketrampilan memasak bagi seorang wanita sama seperti ketrampilan berhias,itu adalah nilai plus seorang perempuan.
Berbicara masalah belahan hati idaman,saya teringat kata-kata Dr.mashitah Ibrahim,mendengar kata-kata ngidam pikiran kita langsung teringat kepada wannita yang pingin macam-macam.pingin yang asem-asem lah,pingin makan sabun,pigin makan kapas,intinya banyak yang didamkan tidak kesampaian.Oleh karena itu,yang perlu dicari adalah pasangan yang "realistik" bukan yang "idealistik".Hari ini,kita boleh menyusun sejuta kriteria yang kita inginkan,ingat usia juga terus berlalu seperti awan yang dibawa angin lalu.
Sebenarnya,apa yang dicari ?
Kecocokankah?
Kecocokan" itukan relatif.Apa yang cocok untuk saat ini,belum tentu pas buat nanti.Laksana baju yang pas sekarang,beberapa bulan ke depan juga akan kesempitan.Menjadikan keccocokan sebagai landasan untuk menikah,akhirnya akan membawaki kepada perselingkuhan.Bila pasangannya dirasa tidak lagi cocok maka dia pun akan mencari yang lain.jadi apa dong yang dicari?
Kesempurnaankah?
Hanya tuhan yang sempurna,manusia tidak luput dari segala kekurangan.Mancari yang sempurna,sampai matahari terbit di sebalah barat tidak akan ketemu.Saya teringat sebuah pepetah arab mangatakan "Man thalaba akhan bila aibin,baqiya bila akhin/barang siapa yang mencari sahabat yang tak bercela,selamanya ia tak akan punya saudara" dan orang bijak pun pernah berkata "selamanya engkau tidak akan mendapatkan padang rumput yang hijau,kecuali kau lihat disitu jejak-jejak penggembala"....
Rasanya,cuma pengertianlah(baca:agama) yang paling utama.hanya orang yang saling memahami dan mengerti yang akan hidup bahagia.Ibarat kaki kanan dan kaki kiri yang selal umengerti satu sama lain.Kaki kanan tidak pernah cemburu saat kaki kiri berada di depan ketika kita melanggkah.begitu juga kaki kiri tak pernah potes saat berada dibelakang.
"Pilihlah yang beragama,niscaya engkau akan bahagia"..Hadits....
Note:
Maaf klu ada kata-kata atau pendapat saya yang kurang berkenan.

"Memalukan"itulah kata-kata yang terdetik dalam hati saya setelah membaca salah satu tulisan yang diposting di sebuah mailist.
Setelah nonton videonya,saya jadi kepingin merdeka dari indonesia(he..he just kidding).
Saya heran,apakah di indonesia yang begitu banyak penduduknya tidak ada orang yang pinter bahasa inggris?
inilah cuplikan tanggapan mereka terhadap kontestan miss universe dari indo:
Being able to speak English is a plus, not a necessity, for Indonesians. In fact, most people in Indonesia do not speak fluent English. My parents, for example, don’t speak English at all. And there’s nothing wrong with it. There’s no real need to speak English in the country. Nobody is valued less for his/her inability to speak English.
However, representing Indonesia in international context is different than merely being Indonesian. For country representatives, being able to speak English properly, if not fluently, in my opinion, is a must. And sometimes, it’s better to speak in your own language — meaning: having an interpreter — rather than forcing yourself to speak English just to put an egg on your face. And hey, not only on your face, but on the face of your country!
I couldn’t help but laugh… yet my heart sank to watch the interview of Nadine Chandrawinata, Miss Indonesia who participates in 2006 Miss Universe. Having an accent is not a problem… making some minor grammatical mistakes is forgivable…. but saying that “my admirer is Mother Theresa” and, worse, “Indonesia is a beautiful city”……ouch… is too much!! And there’re more stupid things popped up in her interview such as “…in 10 years… I see myself simply as a Nadine…” Oh, my, my!
Oh yeah…, she kinda revealed that Indonesia has “…. a lot of beautiful bitches!”…. OK, I choose not to be too critical.. so this mistake is forgiven  . Only a mispronunciation. Exchanging beaches with bitches is not a big deal, right?…  Yes, Nadine is so beautiful and has a great figure. But come on… many beautiful Indonesian women can do better than her! Or, alternatively, Nadine can take an intensive course enabling her to at least speak less embarrasing English before participating in international events (or, did she? perhaps she did!). But hey, why do some Indonesian media say that she speaks English and German fluently?!?
I checked into some other contestants’ videos. They didn’t do such shameful interviews. Contestants from neighboring countries such as Malaysia and Thailand definitely did better. Some who don’t speak English well, such as Misses China and Kazakhstan, chose to speak in their own languages… saved them from embarrasment.
Anyway… better stop rambling. Check the video and read my literal transcription below. Enjoy, laugh and cry! :::
What do you like to do in your spare time?
I like to do in my sparetime is going out with my friends, with my family and sharing with the children like doing some act.. doing some activities..eh..eh.. in social work, like campaign for them and campaign for against discrimination of women, something like that.
What do you see yourself doing 10 years from now?
I see myself in 10 years a..eh. I see myself in 10 years later simply as a Nadine and eh..doing something like or eh…being more mature and express or explore myself and my potential and doing something for anyone el.. doing something for me and everyone.. like I want to work for the Unicef so i can be more active and give more attention for them.
Who is your idol?
My admi.. my admirer is mother Theresa, because … she is so humble for me and she had, she has a beautiful or … wonderful personality. So I really .. adore at… at her.. hehehe.
Your friends say you are…
My friends tells that I am friendly, easy going person, just simply person, ordinary person and patient.
What do you want the rest of the world to know about your country?
Indonesia is a beautiful city.. so, you should go there to visit by yourself, because we have a lot of beautiful bitch..es (beaches)* and the spectacular mountain and… dramatic of history and… so the people. Because people of Indonesia is really… is really welcome eh.. and really friendly because they like to know more about other country, other belief, other ideas….so, come to Indonesia and feel it and we open…we open our arms to come to Indonesia. :::::
Arrgh….. reading my own transcription makes my head hurts… And suddenly, I feel an urgent need to hide………
*of course what Nadine meant was “beaches”…just somehow it sounded like… in-between bitch and beach
Selamat menikmati,awas jangan ganti kewarganegaraan!!...!
Note:
Sorry klu berita basi
 Sedari matahari masih tersipu malu di ufuk timur,manusia sudah mulai melakukan perjalanan.Dan mereka harus menyibak kepekatan malam saat kembali.
Perjalanan adalah fenomena klasik.Manusia purba pada zaman nomaden juga melakukan perjalanan.Berpindah dari satu gua ke gua lain,dari delta ke delta.
Di zaman teknologi ini,perjalanan juga semakin canggih.Kereta api,pesawat merupakan alat-alat canggih yang memudahkan manusia melakukan perjalanan.
Melihat fenomena ini membuatku bertanya dalam hati,"Dimanakah akhir perjalanan ini?"
Aku tergugu,dadaku membuncah....
'Liang lahat"...Ya kesitulah semua perjalan ini berakhir.Itulah "Final Stop" yang pasti menjelang.
Mati...
Semua makhluk bernyawa akan mati.Tubuh yang dulunya gagah perkasa sekarang terbujur kaku.Lantas ia pun dikeluarkan dari istana megahnya menuju kenegri paling sunyi.Bahkan ibunda yanag sangat menyintainya,dan istri yang paling setia hanya bisa mengantarkannya sampai kepintu kubur.Sama seperti orang fakir,jenazahnya hanya dibungkus sehelai kain putih,tiada jas apalagi dasi.Sendiri,jasadnya terbaring dibalik keranda.Menunggu ulat-ulat hitam menggerogoti tiap inci tubuh yang dulunya enggan beribadah dan beramal shaleh.
Beruntunglah mereka yanga dulunya banyak menebar cinta,dan mengoleksi banyak pahala.Kubur adalah taman surga baginya.
Dengan mengingat mati...
Aku terkadang berurai air mata,dan terkadang membuatku tersenyum bahagia.Aku menangis,kalau-kalau mizan hasanah-ku lebih ringan dari mizan saiah-ku.Aku takut.
Dan kala harapan-harapan duniawiku tak tercapai,dengan mengingat mati aku masih bisa tersenyum.Buat apa semua ini toh aku juga akan mati?.... 
".Assl,Cecek sedang pak cek bawa kerumah sakit,doakan biar selamat,wass".Begitu isi pesan singkat yang kuterima beberapa jam yang lalu.Tanpa pikir panjang,jemariku mulai menari diatas key pad ponselku."Your message is not sent",Smsku gagal lagi.Lantas kutekan nomor pak cekku,"Nomor yang ada tuju sedang sibuk atau berada diluar jangkauan"kupingku panas mendengar kalimat itu.Jaringan telkom di aceh memang sering lelet.
Aku galau,bagaimana gerangan keadaan cecekku.Aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya.Cecek adalah adek bungsu bunda.Sama seperti bunda cecek sangat sayang padaku.Aku ingat kala kecilku,begitu banyak aku menyusahkannya.Bila cecek pulang dari Banda cecek-lah yang sering membantu bunda mengurusku.cecek yang memandikaknku,memotong kuku,memakaikan baju,menyisir rambutku,lalu cecek akan mengajak ku jalan-jalan menikmati udara sore.Tangannya menuntun tanganku,Dan bila aku kecapekan,meskipun dengan susah payah cecek akan menggendongku,Padahal kala itu umurku sudah menginjak tujuh tahun,
Aku juga masih ingat,aku punya kebiasaan aneh yang menyusahkan.Aku tak bisa tidur kalau tidak ada orang yang mengipas tubuhku dan mengelus ubunku,tapi aku tidak mau pakai kipas angin.
Bila cecek ada,cecek-lah yang sering mengantikan bundaku,mengantarku menjemput mimpi debgan dongeng"Gegasi dan gegasang",tak jarang aku tidur berbantal lengannya.
Sampai saat ini,aku kurang meyukai bantal,aku lebih suka tidur beralaskan lenganku sendiri,karena hal itu akan mengingatkanku pada memori masa kanak-kanakku.Aku tak kuasa melupakaknya,dan aku tak pernah ingin melupakannya.
Stelah cecek menikah,rasa sayangnya kapadaku tak kunjung berkurang.Aku jaga sangat menyayanginya.Meskipun hanya salam rindu yang bisa kukirmkan.
Saat ini...
Cecek mungkin sedang dalam masa-masa kritis,anatara hidup dan mati.,demi membawa sang buah hati kedunia ini.Itulah perjuanagan suci yang dilakukan wanita mana saja diseluruh jagad raya.
Cecek...
"Seperti biasa,hanya doa yang bisa kupanjatkan,smoga tuhan selalu bersamamu.,dan malaikat akan menaungimu dengan sayap-sayapnya..."
Dari keponakan yang pernah menyusahkanmu...
 Gerimis merobek awan negri seribu menara.Udara gigil menusuk-nusuk,sampai ke sumsum. Aku kembali hanyut dalam genangan darah tak bertepi.Entah untuk keberapa kali aku membacanya,selembar surat yang ditulis dengan tinta darah.Sejuta sejarah merah terpampang disana.Hatiku selalu meneteskan darah kala membacanya.Dadaku membuncah,jiwaku meregang meninggalkan raga.
###
"Setengah tahun yang lalu orang tuamu telah meninggalkan kita"suara wak lah seperti gelegar petir yang meruntuhkan kerajaan langit.Dadaku bergemuruh,saraf-saraf auditoriku serasa akan putus.Tatapan mataku nanar.Aku seolah berada dalam lorong gelap tak berujung.Semua hitam pekat laksana jelaga.Hanya hampa yang tersisa.
"kenapa Nyak Ham ngak dikabarin"ujarku lirih diiringi tetesan embun dipipi.
"Kami tak ingin konsentrasi beljarmu terganggu,Nyak ham masih ingat kan pesan ayahmu?"Hanya kebisuan air mata yang menjawab pertanyaan Wak Lah.
Aku memang ingat jauh hari sebelum kepergianku ke Mesir,ayah pernah berpesan"apapun yang terjadi,kamu jangan pernah kembali sebelum menyelesaikan kuliah"pesan ayah kala itu.Aku benar-benar tidak menyangka kalau itulah wasiat terakhir ayah kepadaku.
Aku terpekur didepan pusara ayah dan mak.Nisan yang berlumut dan alang-alang yang tumbuh sembarangan,menandakan bahwa selama ini tidak ada orang yang merawatnya.Kucabut satu persatu ilalang yang tumbuh di atas pusara mak.Hatiku perih,batinku merintih.Kerinduan yang kupendam bertahun-tahun tak ada lagi tempat tuk kucurahkan.Ayah dan mak sudah terbujur kaku di taman kamboja.Ijazah yang kudapat dari hasil perahan otakku selama bertahun-tahun dan segudang prestasi yang kuraih,seolah tiada artinya.
Aku terkejut ketika ada tangan yang menyentuh pundakku,"ah...wak.."
"sudahlah,jangan dipikirkan lagi mari kerumah Wak.Siapa tahu dengan kehadiranmu adikmu bisa kembali tersenyum".Dengan berat hati,aku beringsut meninggalkan makam ayah dan mak.
Jalan setapak kerumah wak Lah begitu lengang.Pohon-pohon besar tumbuh seeanaknya di kanan kiri jalan.Sesekali suara binatang hutan terdengar nyaring bersahutan,mungkin mereka sedang berbahagia dengan keluarganya.Sinar matahari menelusup di celah-celah lebatnya dedaunan.Sepanjang perjalanan Wak Lah menceritakan semua hal kepadaku.
Dari wak Lah,aku tahu bahwa ayahku tidak meninggal karena sakit.Ayahku meninggal berkubang darah.Ayah yang ingin mencari keadilan untuk anaknya harus merelakan nyawanya terbang.
Ayah ingin membawa oknum bersenjata yany merenggut mahkota berharga adikku ke meja hijau.Namun,sidang pertama belum sempat digelar,ayah telah diculik.Seminggu kemudian jasad ayah yang tak berkepala lagi baru ditemukan dengan kondisi hancur.Kalau bukan Wak Lah yang melihat langsung kesana,mungkin tiada seorangpun yang dapat mengenalinya.
Selang beberapa hari setelah kepergian ayah,jantung mak kambuh kembali.Mak pun menyusul ayah kesana.
"Itu rumah wak"suara parau wak lah kembali terdengar.Dari jauh tampak sebuah gubuk kecil,tepat dipinggir hutan rimba.
"Setelah kejadian yang menimpa ayahmu,wak sengaja bersembunyi disini.Mereka ingin meghabisi semua orang yang punya hubungan dengan ayahmu"Jelas wak lah kepadaku.Wak Lah adalah saudara tertua ayah,beliau sangat mencintai kami sekeluarga.
Dadaku sesak,mataku rabun,rahangku seketika mengeras kala mataku membentur pemandangan yang memilukan.Kulihat dihadapnku seorang gadis dengan mata cekung,urat-uratnya yang menghijau tersembul keluar.Pendar dimatanya redup,nyaris padam.Guratan di wajahnya mengatakan bahwa selama ini ia sangat tersiksa.Tubuhnya sangat kurus,hanya perutnya yang nampak membesar.Ada makhluk mungil tersimpan disana.Rambutnya yang awut-awutan,menandakan ia tak pernah disisir.Aku ingat,dulu mak sering menyisir rambutnya,lalu membuat dua kepangan indah yang seiras dengan wajah manisnya.
"Dek..bang ham sudah kembali.."kumenyapanya pelan.Tidak ada sambutan,ia hanya menatapku sebentar,selanjutnya ia asyik memilin-milin ujung selandangnya.Mungkin ia sedang menyulam derita menjadi sayap peri yang akan membawanya terbang ke surga.
Ini bukan dek Ina yang kutinggal empat tahun yang lalu.Ina ku adalah seorang yang sangat periang,jarang mendung bergayut diwajahnya.
"Dek ina pingin jadi dokter"jawabnya kala itu,saat kutanyakan cita-citanya."kenapa?"sambungku."Biar kalau jantung mak kambuh,ngak perlu ke rumah sakit lagi..."mendengar jawabanya,aku hanya bisa mengulum senyum.
Itu dulu,dulu sekali sebelum orang-orang tak bertanggung jawab merampas segalanya.Mereka tak hanya merampas masa depan dek inaku,mereka juga merenggut dirinya dariku.Dek inaku sudah pergi,hanya jasadnya yang berada dihadapanku saat ini.Aku benar-benar tak tahan melihat kondisi Ina sekarang.Darahku naik sampai ke ubun-ubun.Aku harus menuntut balas kepada mereka,ya..harus...
###
Nun jauh diatas langit,sepotong bulan sabit diapit sepasang awan.Sebentar lagi.aku aku terjun kemedan perang.Setelah beberapa minggu latihan bergerilya,malam ini akan menjadi malam pertamaku ikut bertempur.Sebenarnya,Wak lah keberatan kalau aku ikut angkat senjata,tapi wak lah yang paham akan watakku tak bisa merubah pendirianku.
"Dek...sebentar lagi bang ham aka pergi,doakan supaya bisa kembali..".Aku mohon restu,sebagaimana kebisaanku sebelum meninggalkan rumah.Meskipan hanya lolongan anjng malam yang selalu menjawabku,aku tak pernah bosan berbincang dengan Ina.Aku yakin,di dalam hatinya ia pasti mendoakanku.Setelah mengusap ubun-ubunya,akupun berlalu."Bang ham...'sebuah suara lembut menyapa indera pendengaranku.Langkahku terhenti seketika,aku tak percaya benarkah Ina yang memanggilku,ya tidak salah lagi!Itulah suara yang kurindui selama bertahun-tahun.Hampir tiga bulan aku bersamanya,inilah kali pertama ia memanggil kembali namaku.Aku segera berlari kearahnya,merengkuhnya dalam dekapan penuh kasih.
"Bang ham..jangan pergi lagi.."pintanya sambil menangis sesenggukan.Aku pun tidak sanggup membendung butiaran-butiran hangat yang meluncur dari sudut mataku.
Dalam hatiku,aku tak ingin pergi,tapi aku telah berjanji kepada kawan-kawanku untuk membawa pasukan tambahan.Aku tak ingin mencelakai mereka bila aku tak tiba.Kulepas pelukannya perlahan-lahan.Tetesan bening dimatanya benar-benar meruyakkan hatiku.
Dum...Dum...gendang perang sudah ditabuh.Timah panah berpusing-pusing,meninggalkan lobang disetiap benda yang dilaluinya.Riuh rendah suara senapan memecah kesunyian malam.Perang dahsyat sedang berkecamuk,aku kaget ketika HT dipinggangku berbunyi."Nyak ham cepat kembali,Dek ina mau melahirkan.."belum sepat kumenjawab,suara wak lah telah tenggelam dalam dentuman meriam."Mundur..mundur.."ucapku mantap.Aku berlari sekuat tenaga.menyibak kepakatan malam,sambil sesekali menebakkan peluru ke atas agar mereka tidak melakukan pengejaran.Duri yang menusuk kakiku dan ranting yang mengguris mukaku.aku tak merasakam perihnya.Dalam benakku hanya ingin segera sampai di rumah.
Otot-ototku lemas seketika,dihadapanku terbaring sosok tubuh,didtutup kain batik tua."maaf,nek yam tidak bisa membantu.ini pilihan adikmu,ia tidak mau melahirkan anak pembunuh ayahmu..."aku tak mampu berujar,liadahku seperti dihimpit berton-ton batu.Aku gamang,atau bahkan aku sedang tersesat.kumenatap langit,mencari bintang utara yang konon tak pernah berpindah posisi,meskipun musim bertukar dan masa berganti.Bintang polaris itulah katanya yang menjadi penunjuk arah bagi para musafir yang tersesat.Sayang,malam ini bintang itu tidak ada lagi di posisinya,mungkin ia telah bosan berada disana.
Setelah jasad adikku dikebumikan,aku menatap kosong tiga pusara yang terbujur dihadapanku.Aku merasa asing dengan dunia ini,seolah dunia ini bukan tempatku lagi.Aku sering merasa sendirian dalam keramaian."Ini ada surat yang ditinggalkan dek Ina..."Suara Wak lah mengagetkanku.
"Bang ham,maafkanlah dek ina,pasal Dek Ina juga ayah meninggal"
"Tidak adikku,engkau tak salah.."batinku.
"Bang ham,kembalilah ke Mesir.Sampaikan kepada dunia berita negri kita,negri yang terjajah dalam negara merdeka,ceritakan juga tentang darah yang menetes,kisah tulang belulang dimulut anjing malam,janda-janda yang berurai air mata,perdengarkan juga isakan anak yatim yang menanyakan ayahnya.kembalilah bang,bukankah pena mampu menulis yang tak bisa ditulis oleh senjata?"
###
"Bang...simpan saja tu surat kalau bikin abang sedih"Suara lembut Ima mengembalikan jiwaku yang sempat meninggalkan ragaku.Segera kugerakkan tanganku,untuk menghapus embun dipipi.Tanganku masih menggantung,ketika lentik jemari Ima mengusap pipiku.
Ima adalah bidadari hatiku yang kunikahi akhir tahun lalu,sebelum kuputuskan untuk kembali ke Cairo.Ima lah yang mencabut beliung-beliung derita dari dadaku,menambal lukaku dengan perban cinta.Ima pula yang mengukir kembali senyum dibibirku.Pun ia yang membuat hatiku yang sempat mati hidup kembali.Apalagi calon pejuang kecil yang dikandungnya,membuatku ingin hidup lebih lama lagi.Apa bila ia lahir,ingin kubacakan hikayat darah tuk meninabobokannya,kan kukatakan kepadanya"Nak...sebagai putra aceh yang lahir berlumur darah,jangan pernah takut tuk mati bersimbah darah"
-The End-
*Terhatur buat para syuhada yang meregang nyawa di naggroe iskandar muda...

 Semenanjung Harap,16 Mar ‘06
Menjumapai,...
Belahan jiwa
di-
singgasana hati
Kutulis risalah ini disaat hati tiada lagi mampu memendam rasa.Rasa yang dari detik ke detik semakin mendera-dera dan menyiksa.
Senja itu,saat pertama kita bertemu,rasa itu telah merasuki kalbuku.Setelah hari itu,aku slalu merindukan pijar matamu yang mampu cairkan gunung es di hatiku.Aku pun tak bisa melupakan lengkung pelangi dibibirmu.
Pernah kumencoba membunuh rasa itu,ingin kuhanyutkan semua perasaanku dalam aliran nil biar dipungut orang nan lalu.Namun,semakin kumencoba,wajah pualammu semakin nyata menyapa.Menelusup kedalam nadiku,menjalar bersama aliran darah kesuluruh sel tubuhku.
Duhai yang bertahta dijiwa….
Adakah kau nikmati senja hari ini,seperti sepotong senja yang mempertemukan kita.Lihatlah lewat jendela hatimu,sang surya sedang mengelupas,menyisakan semburat jingga,melumuri maya pada.Sungguh suatu senja yang sempurna.Kekurangannya justru ada pada diriku,kala kulirik kesampingku,aku masih sendiri,berdiri tanpa seorang bidadari yang menamani.
Duhai yang mengetarkan sukma….
Sudikah engkau menemaniku,mengantar senja tuk menjemput kerlip bintang di langit malam?
Maaf,atas kelancanganku mengucap semua ini.
Terimalah sajak ini sebagai janji setiaku…
Aku memang bukan dewa yang sanggup terbang keangkasa
Tuk memetik sebutir bintang sebagai penghias bibirmu
Namun,kubisa mengutip tiap tetes embun yang bergayut dipincuk daun
Tuk kau reguk setiap pagi
Aku bukan pelakon
Yang sanggup membuatmu hanyut dalam gelak tawa
Namun,kubisa membuatmu tersenyum bahagia
Dengan kisah para anbiya
Aku bukan pujanga
Yang sanggup membuat jiwamu melayang keangkasa dalam tebaran kata
Namun kubisa menjadiakan hatimu basah
Dalam lantunan firman Allah
Aku bukan pangeran
Yang kan menjumpaimu dengan kereta kencana ditarik banyak kuda
Namun kupunya bahtera cinta
Tuk membawamu menuju pulau bahagia
Sudikah kau berlayar denganku?
Bersama kita menghadapi badai gelombang hidup ini….
Duhai Pengukir tawa…
Jangan jadikan suratku ini sebagai beban,pengganggu batinmu.Aku hanya ingin mencurah rasa,tak lebih.Tak mengapa,kau tidak mecintaiku.Mungkin sudah takdirku dilahirkan hanya untuk menyinta….
Sang pecinta,..
-Risyad-
Catatan hati
Risalah ini tersimpan dalam arsip hatiku,sebagai persiapan kalau ada yang minta dikirimi surat cinta 
 Bintang yang berserakan di langit,mengerdip nakal.Mungkin ia tahu.aku sedang kasmaran.Akhir-akhir ini,aku mememang sedang jatuh cinta pada sekuntum mawar merah yang menghiasi meja belajarku.Aku sangat menyukainya.Warnanya merah merekah,mahkotanya megah,dan lapisan kelopaknya tersusun rapi,berseri.Semerbak wangi yang ditebarkan,membuatku betah berlama-lama disisinya.Mencurahkan segala gundah dihati.Ia adalah sahabat terdekatku saat ini,bahkan dimalam hari jadiku ini,ialah yang paling setia mememaniku,merengguk kesunyian malam.
Aku terkejut,sekonyong-konyong kudengar desahnya,"lihatlah aku....kala aku masih indah,warnaku merah merekah,semua mata tak berpaling dariku,namun disaat aku mulai kuyu,aku pun dilupakan...."
Hatiku tersentuh,aku kasihan kepadanya.Mawar memang bunga yang sangat indah,tapi sayang keindahannya hanya sebentar.Bersama waktu yang bergulir.ia pun layu,helai mahkotanya gugur satu-satu,wanginya pu hilang,dan akhirnya ia hanya menjadi penghias keranjang sampah tuk slamanya.Malang nian nasibnya.
Untuk sesaat aku tercenung,mencoba merenungi nasib diri.Bukankah nasib manusia tidak jauh berbeda dengan mawar merah?
Ketika masih muda,otot-otot perkasa,dan harta melimpah,kala itu ia bak superstar yang merajai siang dan malam.Namanya di elu-elukan,setiap kata-katanya jadi panutan.Namun bersama musim yang berganti,masa kejayaan pun mula redup,rambut hitam berganti uban,mata yang awas mulai rabun,dan akhirnya ia pun terbujur kaku di taman kamboja,menunggu hisab-Nya.setalah itu,ia pun pupus dari memori insan di dunia ini.
Tapi,aku ingin menjadi mawar merah yang selalu merekah,mungkinkah?
Dari hasil perenungan panjangku,aku sampai pada satu kesimpulan,hanya dengan amal ibadah dan menanam jasa sebanyak-banyaknya hidup manusia kan selalu merekah dan mendapat berkah.
Aku teringat sebuah syair Aceh"hana guna didônja tanjôe dipudjôe sayang ôh dudôe asôe nuraka*....."
*Apalah artinya dunia memuji,kalau toh nanti akan menjadi orang yang merugi(masuk neraka)
Malam Sunyi,2 Mar '06 
 Syahdan,ada seorang lelaki yang pergi ke negeri bayang-bayang.Penduduk negeri itu sangat berbeda dengan orang-orang di negerinya.Bahasa mereka sangat aneh,jauh berbeda dengan bahasanya.Budayanya juga tidak sama.Penduduk negeri tersebut tidak mau bersahabat dengan lelaki itu.
Lelaki itu selalu merasa kesunyian,tiada satu makhlukpun yang bisa diajak bicara.Bahkan bintang dan rembulan pun tidak mau menemaninya.Kerlipan bintang gemintang di negeri itu menawarkan kengerian.Berbeda dengan pendar gemintang di negerinya yang selalu menebar kedamaian.Rembulan negri itu tak pernah purnama.
Lelaki itu termangu di atas sebongkah cadas.Dihadapannya,sejauh mata memandang,terbentang hamparan padang pasir yang tak bertepi.Angin gurun melantunkan senandung sunyi.
Tiba-tiba,mata lelaki itu berembun.Kerinduannya kepada seseorang kian menyiksa,bayangan wanita itu menjelma di pelupuk matanya.Batin lelaki itu merintih,"Andai ia disini,tentu aku tak kesepian lagi..."
Lelaki itu hanya bisa berandai,karena wanita yang ia rindui jauh di seberang samudera.
Ia pun bukanlah rajawali bersayap perkasa yang bisa terbang tuk menjumpai sang idola.Ia hanya seorang lelaki biasa,yang hatinya selalu menautkan butiran-butiran rindu menjadi untaian cinta.
Lelaki itu menengadah kelangit,matanya mencari bintang utara yang konon tak pernah berganti posisi,meskipun musim bertukar dan masa berganti.Katanya,bintang polaris itu selalu menjadi penunjuk arah bagi musafir yang tersesat di tengah gurun.
Sayang,malam ini bintang itu tidak ada lagi di posisinya.Mungkin ia telah bosan berada disana.
Lelaki itu pun kembali hanyut dalam simfoni rindu.....
Kota bayang-bayang,27 Feb '06

 Sudah kuterima salam rindumu
Yang engkau kirimkan
Bersama desau angin senja
:Aku pun rindu
Sudah kuabadikan senyummu
Yang engkau ukir pada arakan tipis
Awan di angkasa
:Senyummu bahagiaku
Sudah kubaca cemasmu
Pada kelopak mawar
Yang berguguran ditiap jengkal taman qalbu
:Percayalah,slamanya engkau tak kan terganti
Sudah kukristalkan air matamu
Yang menetes pada beningnya nil
Yang mengoyak jantung Afrika
:tenanglah,aku pasti kembali
Catatan Hati:
I wuold like to thank my beloved sister "teacher" K'Dian,she's always inspiring me to write more...
Sahara Qalbu,8 feb '06 

Malam semakin larut,suara jengkrik malam yang melantunkan senandung lara kian nyaring terdengar,namun mataku belum juga terpejam.Dari alunan malam yang begitu sunyi kuprediksikanbeberapa jam lagi azan subuh akan bergema.Akupun duduk,kuraih segelas air putih yang disiapkan rijal tadi sore.
Kurengguk air dalam gelas perlahan-lahan,pikiranku menerawang jauh,melewati samudera,tertuju pada satu titik,"bunda".
Iya,aku merindui bunda."Kalau bunda ada disini,tentu penyakitku tak separah ini"gumamku lirih.
# #
Tiga hari yang lalu,aku mengalami infeksi saluran pernapasan.Luka ditenggorokanku benar-benar menyiksaku.Jangankan makan,minum saja meninggalkan perih yang luar biasa.
"Jangan makan yang pedes-pedes dan berminyak"begitu nasehat dokter padaku.Aku yang sudah beberapa hari tak bernafsu makan,mengangguk saja.
Dari hari kehari kondisi fisikku semakin melemah,mungkin karena aku tidak mau makan.Puncaknya adalah kemarin,tubuhku benar-benar lemah,aku hanya bisa berbaring kaku,kepalaku terasa ditindih batu berton-ton.Sakit di tanah rantauan sangat menyiksa.
# #
Kuisi kembali gelasku yang sudah kosong,rasanya begitu lega saat air melewati kerongkongan.
Batinku terus menjerit memanggil bunda,bulir-bulir hangatpun meluncur deras membasahi kedua pipiku.Bagaimana tidak?
Dulu,bila aku sakit,bunda akan selalu berada disampingku.Saat aku tidak mau makan,bunda akan menyuapiku.Menemaniku dengan hikayat-hikayat indahnya.
Kala itu,aku malah senang jika sakit,karena bila sakit aku akan punya banyak waktu bersama bunda.menuai cinta kasihnya.
Malam ini aku sudah lumayan sehat,tapi batinku terluka,hatiku berdarah.Kerinduan yang merayapi dinding batinku,telah membakar jiwaku.
Aku kangen bunda,aku merindui suara kakinya saat berjalan,aku meridui rinai senyumnya,aku nerindui cintanya,aku merindui saat-saat dimana bunda mengusap ubunku.
Aku telah begitu jatuh cinta dan sayang sama bunda.Sampai-sampai,aku pernah merasa takut untuk berkeluarga.Aku takut bila istriku akan merebut cinta bunda dari hatiku.
Disuatu malam.aku pernah berdo'a:
"Ya Allah,bila suatu saat aku harus mencintai wanita lain selain bunda,dan jika aku harus membagi rasa,anugerahilah kepadaku wanita salihah yang bisa berperan ganda,menjadi istri dan bunda..."
Catattan Hati:
"Kak Dian.kak Is,dan semua kawan-kawan dikomunitas ini yang ga' mungkin disebutin satu persatu,terima kasih banyak.Kehadiaran kalian tlah memberi warna baru dalam hidupku,dan rinduku seperti mendapakan penawarnya...."
*Ananda yang terbaring*

 Maaf...
Aku tak pernah bilang
"Aku mencintaimu"
Maaf..
Aku tak pernah berujar
"Aku menyukaimu"
Maaf...
Aku tak pernah berkata
"Aku menyayangimu"
Maaf...
Aku tak pernah melafadzkan
"Engkau adalah bidadariku"
Tahukah kau
Qalbuku tak henti menautkan namamu
Kau tlah bertahta di singgasana jiwaku
Bukankah cinta tak slamanya harus terucap
Adakah yang lebih abadi dari cinta yang lahir dari lubuk hati?
Disclaimer:
Kupersembahkan sepenuh jiwa kepada seseorang yang jauh dimata namun dekat dihati
Yang namanya sering mengisi doa malamku... 
 Senja sebentar lagi akan berganti malam,sang surya yang telah seharian menyinari bumi akan segera kembali keperaduannya.Semburat cahaya jingga diufuk barat,menyelinap disela-sela dedaunan.Semilir angin senja mempermainkan rambutku yang kusut,mengibar-ngibarkan pakaianku yang kotor,bertanah.Aku terus berjalan menulusuri jalan desaku yang masih berkerikil.Aku ingin segera tiba dirumah,sebelum magrib tiba.Hari ini aku sudah terlambat beberapa menit,biasanya jam seperti ini aku sudah mandi dan berpakaian rapi.
Setiba dirumah,aku bergegas mandi,air hangat yang telah disiapkan bunda membuatku lebih fresh.Setelah mandi,kulihat di atas kasur sepasang baju dan celana,pilihan bunda.Warnanya yang serasi dan padu membuatku ingin segara memakainya."Adek,cepat kesini..."bundaku sudah menunggu didepan cermin,dengan sisir ditangannya.Rambutku menggeliat manja saat jemari bunda meminyakinya."Aduh...aduh..."aku tak sengaja merintih kesakitan,saat ujung sisir menentuh kulit kepalaku.Bunda segera membalikan badanku,matanya yang sarat kasih mencari mataku.Kulihat tanda tanya diraut wajah bunda.kalau sudah begini, aku tidak bisa bebohong.Akhirnya,ceritapun mengalir dari mulutku.
Tadi siang,saat sedang bermain dirumah kawanku,samsul yang lebih besar dariku menjahiliku,sebenarnya aku sudah berusaha bersabar,tapi pada saat samsul menyentuh kepalaku,aku tidak bisa terima.Kepala merupakan bagian paling berharga bagiku,meskipun fisikku lebih kecil,aku membalasnya.Dan kamipun terlibat adegan tinju,yang meninggalkan benjol di bawah rambutku.Bunda mendengar ceritaku,penuh perhatian.Itulah bunda,beliau selalu tahu apa yang menimpaku.Tidak ada satu goresanpun ditubuhku,yang bunda tidah tahu sebabnya.
"Sebentar lagi,kita akan kerumah samsul untuk minta maaf..."Ujar bunda seraya membelai rambutku."Adek nggak mau,bukan adek kok yang salah...."Sergahku cepat."Bunda kan nggak bilang adek yang salah"Tutur bunda pelan."pokoknya adek tetap nggak mau....."Intonasi suaraku meninggi.Butiran-butiran kristal yang dari tadi menetes,semakin menganak sungai di kedua pipiku."Adek,..minta maaf itu,nggak berarti kita yang bersalah"Bunda menjelaskan,sembari mengusap air mata di pipiku."Adek masih ingat cerita kakek,tentang surga dan neraka.."Bunda menambahkan,suaranya yang lembut,menembusi dinding batinku.Tentu saja aku masih ingat cerita kakek.Aku membayangkan neraka yang penuh ular berbisa,orang-orang yang suka berbohong dan berkata kotor dipotong lidahnya.Surga dalam imajiku,merupakan sebuah taman seribu bunga,sejuta kupu-kupu,berbagai macam buah-buahan terdapat disana."Adek pilih mana...."tanya bunda.Tentu saja pilih surga batinku.
Usai salat magrib,aku dan bunda berjalan menuju rumah samsul.Bulan mengintip malu dibalik awan tipis yang berarak dilangit.Cahayanya yang temaram menerangi jalan desaku.Ditengah perjalanan,bunda mampir desebuah warung,membeli sedikit oleh-oleh buat kelurga samsul.Selang beberapa menit kemudian,aku dan bunda sudah berada tepat didepan pintu rumah Wak Lah,ayah Samsul.setelah memberi salam kami dipersilahkan masuk.Sempat kulihat samsul tadi diruang tamu,namun pada saat melihat kedatanganku,dia segera bersembunyi dikamarnya.Dia mengira,aku mau balas dendam.
Aku masih berdiri tepat disamping bunda,ketikabunda menyentuh pundakku,memberi isyarat."Wak,..saya mau minta maaf sama Samsul"Lidahku terasa berat,suaraku sedikit bergetar pada saat aku mengutarakan maksud kedatanganku.Dirumah bunda sudah berpesan,bahwa aku sendiri yang harus bicara dan minta maaf.Bunda hanya mendampingi saja.Samsul yang tadi ketakutapun keluar.kamipun bersalaman ala anak-anak.Setelah itu,aku dan Samsul asyik mendengar cerita wak Lah,tentang perjuangan DII/TII dulu.Mata kananku sempat menangkap,bunda tadi ikut ibu samsul kebelakang,bunda ngobrol disana.entah apa yang mereka perbincangkan,sampai sekarang aku tidak tahu.Setelah kejadian itu,aku dan samasul jadi kawan baik,dia tidak pernah menggangguku lagi,begitupun anak-anak lain,mungkin mereka takut sama samsul.
Begitulah cara bunda,mengajariku aksara kehidupan ini.Bunda ingin aku menjadi anak yang jujur,pemberani,bertanggung jawab,dan agar lebih mengutamakan cinta dan persahabatan diatas gengsi.
Aku salut pada cara bunda mendidikku,pernah terbetik dalam hatiku,bila suatu saat aku harus mencari pendamping hidup.Aku ingin Wanita yang bisa mendidik anak-anakku seperti bunda mendidikku.
Bunda,!!..di hari ibu ini,hanya untaian doa bernada ridu yang dapat kupersembahkan.Semoga Allah mempertemukan kita kembali seperti semula. 
| |