" Tajak mate ma, han tajak mate ku " Demikian bunyi idiom aceh untuk mengambarkan seseorang yang sedang kebingungan. Saya
tidak bisa membayangkan bila benar -benar dihadapkan pada piihan
seperti itu. Sungguh sebuah pilihan yang sangat sulit. Dalam sebuah
hadits memang kata "ibu" disebut 3 kali dan kata "ayah" hanya satu kali
. Namun bila kita disuruh memilh satu diantara keduanya, maka
kejadiaannya akan lain.Memilih ayah atau ibu bukan sebuah pilihan, tapi
pemakssan. Semoga tidak ada yang memaksa kita untuk memilih.
Dalam
kehidupan ini, kita tak pernah lepas dari pilih - memilih. Bahkan orang
yang sukses adalah mereka yang menjatuhkan pilihan yang tepat pada saat
yang tepat pula. Namun, memilih tak semudah yang dikira. Dibalik sebuah pilihan tersimpan tanggung jawab dan air mata. Setidaknya, itulah yang saya pahami. Saya pun mulai benci dengan pilihan.
Tiga
tahun yang lalu, ketika pilihan hati ini jatuh kepada negeri cleopatra,
disitulah cerita air mata ini bermula. Cerita panjang yang entah bagaimana
endingnya. Saya ke Mesir bukan kebetulan atau pelarian, saya kemari
karena pilihan hati. Seperti pilihan - piliahan yang lain. pilihan ini
juga diwarnai air mata. Bagaimana tidak? saya yang sangat lengket
dengan orang tua, harus pergi jauh untuk masa yang tak terbatas. Di
bandara polonia medan air mata tertumpah ruah. Sekuat tenaga saya
berusaha agar air mata tak menitik, namun saya gagal. Saya tak kuasa
menahan air mata apalagi ketika melihat wanita yang sangat saya cintai
sedang terisak. " Bek neumoe mak.." saya menghibur ibu saya. "Kiban
han mak moe, kah ka neuk jak han meujan pajan ka gisa, uroe nyoe saban
lagee mak jak intat manyet kah lam jrat" Mak semakin tersedu. Saya pun tenggelam dalam genangan air mata. Saya gamang. Salahkah yang
saya lakukan? Bukankah perpisahan ini hanya untuk sementara tapi
mengapa saya merasa seakan kami tak akan bersua kembali.
Saya
terbang meninggalkan orang - orang tercinta menuju ke negeri cita -
cita. tinggal lah segala kenangan yang sempat tercipta. Hari - hari
indah yang penuh canda dan tawa, ketika mak menuntun tangan saya menapaki hitam - putih jalan ini
telah berlalu. Pun demikian, hati ini tak seditik pun terpisah
dengannya. Tiap tetes air mata mak yang menitik telah mengkristal di
hati ini, selamanya tak akan pernah saya lupakan. Karena disitu
tersimpan kekuatan. Saat itu, saya berjanji di dalam hati akan terus berjuang agar air mata mak tidak mengalir sia -sia.
October 2003, Saya
mendarat di negeri cita - cita. Negeri yang semula saya anggap musuh
saya, karena dia telah memesiahkan saya dengan keluarga. Saya mulai
membaca peta perjauangan dan mengatur strategi untuk segara
manaklukkan musuh. Hanya satu asa di dalam jiwa, saya ingin cepat -
cepat selesai dan kembali ke dalam kehangatan cinta kasih mak.
Alhamdulillah,
sekarang saya sudah berada di tahap akhir. Bila Allah mengizinkan tahun
depan saya sudah bisa kembali ke tanah air. Saya sudah tidak sabar
menanti hari itu, perasaan saya seperti anak kecil yang tak sabar
menunggu pagi untuk segera memakai baju baru di hari raya.
Bila hari itu tiba, saya akan sangat berbahagia. Opss,...saya juga akan sangat sedih. Paradoks memang, bahagia dan sedih.
Saya akan bersedih bila meninggalkan cairo, saya terlanjur jatuh cinta.
Saya tidak tahu kapan pertama kali saya mencintai musuh saya ini.
Semuanya terjadi secara perlahan - lahan dan alami. Saya mulai tergoda
dengan pesoana cleopatra.....
ya...3 tahun bukan waktu yang singkat, dan saya masih punya watu 1
tahun lagi . Saya khawatir bila nuansa kairo yang exotis ini menguasai
saya,. saya tidak tahu apa ayang akan terjadi. Bukankah semua bisa
terjadi dalam rentangan waktu tersebut?
Oh..ternyata saya akan berhadapan dengan pilihan baru. Aceh atau kairo?
Saya benci pilihan...Bagaimana saya harus memilh? Saya cinta kedua - duanya?
Bila embun aceh yang mengokohkan kaki saya sebelum bisa berjalan, maka aliran nil yang mengajari saya makna lain dari kehidupan.
Bila kidung cempala yang memeriahkan pagi saya di aceh, maka disisni gemersik daun kurma yang mengantar saya ke dunia mimpi.
Namun, selama wanita yang mengajari saya makna kasih sayang setia
menunggu, saya tak akan bingung, karena saya sudah punya pilihan.
 | Na ingat Rishad ada 2 gf yang harus dipilih untuk dijadi kan isteri, hehhehheeeehe.. Tell one thing that you like about Cairo the most? |
 | emang bagi tanyou yg merantau pilihan jadi menyakitkan, kemeng tetap di gampong ngon ureng chik, kiban lako yg sudah jadi pendamping hidup yg lagi ngejar cita-cita hiks jadi sedih ingat ayah lon yg hana sempat lon kalon saat-saat terakhir karena jiii oh that....) sabar dek bandum nah hikmah jih.. |
 | zalniati wrote on Feb 16, '07, edited on Feb 16, '07 beu rayeuk saba beuh..... |
 | mudah mudahan bijaksana dalam memilih. Apapun keputusan mu ... (hehehehe) ... adalah keputusan orang dewasa. Take care yah |
 | Insya Allah....pilihan yg got akan jeut Risyad coek....Saban lagee Risyad decided untuk jak u Kairo...Jinoe Risyad ka haroeuk keu Kairo I am definetely sure..next decision will be the right for you,too.... Good luck adoe................. |
 | kita di sini juga udah kl 4 tahun tidak pulang ke tanah air...rinduuuuuuu , tapi Alhamdulillah bisa berkumpul dengan ortu dan keluarga di rumah Allah SWT..saat berhaji tahun lalu. semoga cepat selesai dan bisa berkumpul dengan keluarga dan ortu |
 | azmur wrote on Feb 16, '07 sungguh puitis tulisan mu adoe dan realita. Memang gaya filsafat telah engkau miliki. Selamat selamat dan selamat. Sukses didepan mata. dan Aceh adalah Cairo . budaya nagroe lage adek dengan aduen. Suara Azan menggema di setiap tibanyan waktu shalat, di aceh juga lagenyan, tapi sayang di eropa payah dingoe bak radio.
|
 | Aduh Dek, episode di Polonia bikin Kakak tersedu. Alhamdulillah kalau sudah punya pilihan, it's the best! |
 | eiii, bek peudeuh taloe keuing ngom lah menye teungoh berjuang sikula... haha... |
 | tenang, oh lheuh sikula ta puwoe seumangat teuma, seumangat cinta nyan... |
| |