“nak,.. cepatlah sembuh, buka matamu sayang, kita akan piknik
ke taman putroe phang” suara wanita paro
baya itu terdengar berat. Bilur – bilur penyesalan jelas terlihat di wajahnya.
Ia menyesal karena dulu selalu menunda jadwal jalan – jalan ke taman putro
phang, hingga akhirnya anak kesayangnnya itu jatuh sakit.
Dilain tempat…
“mi..bangun mi, nanda janji akan menjadi anak baik dan tak
akan mengecewakan ummi lagi” ujar
seorang anak muda yang sedang menunggu umminya siuman. Pemuda tersebut hanyut dalam
genangan air mata penyesalan, ia menyesal tidak menuruti kata-kata orang
tuanya. Air bening itu terus mengucur dari kedua matanya.Namun, wanita tua di
sampingnya tepat saja diam membisu, mungkin ia sudah bosan berkata-kata.
Saat itulah, waktu jadi begitu berarti, pengandaian jadi
sebuah harapan. Andai waktu bisa diputar ulang.
Detik yang selama ini terbuang sia- sia menjadi barang
berharga . Lidah yang selama ini enggan dibasahi zikir dan doa mulai komat –
kamit membaca mantra suci. Hanya satu asa yang tersisa, membahagiakan sang ummi
yang kini terbaring kaku. Tak peduli, meskipun dulu sering melukai hatinya. Semua itu menjadi kenangan
pahit yang menyayat hati. Beruntunglah kalau tuhan masih memberikan kesempatan
untuk menghapus noda hitam masa silam.
Di lain tempat,…
“Sayang, lihat aku bawain apa…” Ucap seorang suami sambil meletakkan
setangkai mawar di dekat istrinya yang kini terbujur tak berdaya. Guratan
penyesalan tertulis jelas di muka lelaki itu. Ia menyesal karena dulu selalu
lupa membelikan setangkai mawar, permintaan istrinya.
Saat itu, setangkai mawar begitu mahal baginya karena
menurutnya menghadiahkan mawar sangat tak berguna. ‘Toh ia kan layu, lalu dibuang’ begitu ia selalu
beralasan saat istrinya minta dihadiahkan bunga. Lelaki itu sunguh tak mengerti
perasan perempuan.
Saat ini, jangankan setangkai mawar yang dijual di pinggir
jalan, ribuan kuntum mawar yang tumbuh di dasar samudera ingin dihadiahkannya
buat istri yang dulu sempat disia-siakan.
Untuk semua kejadian di atas, saya ingin membuat kesimpulan dalam
beberapa kalimat:
“Penyesalan selalu datang terlambat, namun tidak ada kata
terlabat untuk menyesal. Saat ini hanya satu yang bisa kita lakukan, meyesal
sebelum penyesalan itu terlambat”.